Senin, 16 April 2012

Pacaran Positif yuk!

  Abstrak
Istilah pacaran tidak bisa lepas dari remaja, karena salah satu ciri remaja yang menonjol adalah rasa senang kepada lawan jenis disertai keinginan untuk memiliki. Pacaran tujuannya untuk saling mengenal dan memahami diantara dua individu yang berbeda, agar pada saat membina keluarga kelak, mereka tidak merasa kaget lagi dengan apa yang menjadi sifat, karakter, atau bahkan kebiasaan masing-masing. Namun, banyak perilaku menyimpang yang sering muncul di antaranya khalwat (berdua-duaan), kissing (berciuman), hugging (berpelukan), petting (bercumbu), sex intercourse (hubungan intim), dan masih banyak lagi. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Sahabat Anak Dan Remaja Indonesia (Sahara Indonesia) melakukan polling di kota Bandung dan hasilnya adalah 44,8% mahasiswi dan juga remaja Kota Bandung sudah pernah melakukan hubungan intim (seks). Dalam hal ini, perlu adanya pembinaan nilai-nilai agama yang komprehensif sehingga setiap individu memiliki kontrol diri yang kuat untuk tidak melalukan perbuatan yang melanggar norma-norma yang berlaku
Kata Kunci : (pacaran, perilaku menyimpang, kontrol diri)

Apa itu “pacaran”?
Pacaran ini biasanya mulai muncul pada masa awal pubertas. Perubahan hormon dan fisik membuat kita mulai tertarik pada lawan jenis. Proses "sayang-sayangan" dua manusia lawan jenis itu merupakan proses mengenal dan memahami lawan jenisnya dan belajar membina hubungan dengan lawan jenis sebagai persiapan sebelum menikah untuk menghindari terjadinya ketidakcocokan dan permasalahan pada saat sudah menikah. Masing-masing berusaha mengenal kebiasaan, karakter atau sifat, serta reaksi-reaksi terhadap berbagai masalah maupun peristiwa.
 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga, 2002:807), pacar adalah kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta-kasih. Berpacaran adalah bercintaan; (atau) berkasih-kasihan (dengan sang pacar). Memacari adalah mengencani; (atau) menjadikan dia sebagai pacar. Sementara kencan sendiri menurut kamus tersebut adalah berjanji untuk saling bertemu di suatu tempat dengan waktu yang telah ditetapkan bersama.
Kalau masa pacaran kita manfaatkan dengan baik dapat menjadi ajang untuk melihat masalah yang potensial yang akan muncul dari perbedaan diri kita dan do`i yang berbeda latar belakang kehidupan sehingga nantinya kita dan do`i siap mengantisipasi kalo timbul permasalahan yang tidak dikehendaki.
Kedewasaan kita dalam berpacaran bisa dilihat dari kesiapan untuk bertanggung jawab. Ini dapat dilihat dari kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan peran, membagi waktu, perhatian, dan tanggung jawab antara belajar, pekerjaan rumah, dan pacaran. Kesiapan untuk berbagi dengan orang lain, menghadapi permasalahan pacaran, dan tetap bisa mengendalikan diri dan memenuhi nilai-nilai yang dianut dalam berhubungan dengan lawan jenis.
Tahapan pacaran
1.      Tahap ketertarikan. Dalam tahap ini tantangannya ialah bagaimana mendapatkan kesempatan untuk menyatakan ketertarikan dan menilai orang lain. Munculnya ketertarikan kita sama doi, misalnya, karena penampilan fisik (do`i cakep/cantik, tinggi), kemampuan (pintar), karakteristik atau sifat misalnya sabar, coolabis, dan lain-lain. Menurut para ahli, umumnya cowok pada pandangan pertama lebih tertarik pada penampilan fisik. Sedangkan cewek lebih karena karakteristik atau kemampuan yang dimiliki cowok.
2.      Tahap ketidakpastian. Pada masa ini sedang terjadi peralihan dari rasa tertarik ke arah rasa tidak pasti. Maksudnya, kita mulai bertanya-tanya apakah doi benar-benar tertarik sama kita atau sebaliknya apakah kita benar-benar tertarik sama doi. Pada tahap ini kita mendadak ragu apakah mau melanjutkan hubungan atau tidak. Kalau kita enggak mampu memahami tahapan ini, kita akan mudah berpindah dari satu orang ke orang lainnya.
3.      Tahap komitmen dan keterikatan. Pada tahap ini yang timbul adalah keinginan kita kencan dengan seseorang secara eksklusif. Kita menginginkan kesempatan memberi dan menerima cinta dalam suatu hubungan yang khusus tanpa harus bersaing dengan orang lain. Kita juga ingin lebih rileks dan punya banyak waktu untuk dilewatkan bersamanya. Seluruh energi digunakan untuk menciptakan saling cinta dan hubungan yang harmonis.
4.      Tahap keintiman. Dalam tahap ini mulai dirasakan keintiman yang sebenarnya, merasa lebih rileks untuk berbagi lebih mendalam dibandingkan dengan masa sebelumnya dalam hal emosional, misalnya kepribadian kita dengan pasangan, kepribadian pasangan dengan kita, apakah bisa menyatu, bisa saling mengerti dan mengisi satu dengan yang lainnya, dan merupakan kesempatan untuk lebih mengungkapkan diri kita. Tantangannya adalah menghadapi sisi yang kurang baik dari diri kita. Tanpa pemahaman yang baik bahwa setiap pasangan mempunyai reaksi yang berbeda terhadap keintiman, kita akan mudah mengambil kesimpulan yang salah bahwa terlalu banyak perbedaan antara kita dan do`i untuk melanjutkan hubungan.


Manfaat Pacaran
perkembangan yang harus dipenuhi remaja adalah menjalin hubungan yang lebih matang dengan lawan jenis. Remaja diharapkan tidak lagi berperilaku seperti anak kecil. Contoh, kalau tidak sengaja tersentuh lawan jenis, langsung marah-marah dan membersihkan bekas sentuhan itu. Ada banyak alasan yang menyebabkan remaja akhirnya memutuskan untuk pacaran. Tapi sering kali alasan-alasan itu demi memuaskan kebutuhan pribadi. Seperti, untuk teman curhat, gaul, atau supaya ada yang memperhatikan. Melalui ajang pacaran, remaja bisa mengasah kemampuan bersosialisasi. Remaja jadi tahu bahwa jujur pada pasangan itu penting. Hubungan kasih sayang juga semakin terjaga saat saling memberi saran dan bukan menyalahkan. Kemampuan bernegosiasi untuk menyelesaikan konflik sama pacar pun bermanfaat buat melanggengkan hubungan.
Lebih jauh lagi, melalui pacaran remaja bisa belajar menolerir perbedaan pendapat. Semua ilmu yang berhasil dipetik dari masa pacaran itu sangat berguna. Terutama buat bekal memasuki dunia pernikahan agar mereka tidak merasa kaget lagi dengan apa yang menjadi sifat, karakter, atau bahkan kebiasaan masing-masing. Tidak heran, banyak di antara remaja yang memperbanyak koleksi mantan pacar supaya memperdalam ilmu pacaran.
Keinginan untuk pacaran sebenarnya wajar dialami. Salah satu tugas

Pacaran, cinta, dan seks
Berpacaran tidak selalu berarti seks. Cinta yang muncul dalam hubungan seks di luar nikah sifatnya semu. Mengandalkan hubungan pada hal yang sifatnya semu tentu saja sangatlah lemah.
Pacaran yang berorientasi pada seks akan mengganggu proses adaptasi karena dalam kancah seks semuanya tampak bagus. Kedua pihak sama-sama memelihara yang manis-manis dan indah.
Secara faktual, pria lebih gampang tancap gas dan telat nginjak rem, sedangkan wanita biasanya masih dalam kondisi sadar saat cowoknya sudah lupa daratan. Inilah sebetulnya saat yang tepat untuk menginjak rem kuat-kuat. Pengendalian diri dalam hal ini sering kali gagal. Oleh karena itu, lingkungan harus diciptakan agar rem tidak telat diinjak.
Kondisi lingkungan yang tidak mendukung, antara lain: berdua saja di tempat yang jauh dari keramaian, tertutup, bebas gangguan, atau gelap. Di tempat seperti ini iman sering kali melemah, moral dan akal sehat tak berfungsi.

Perilaku Pacaran
Stenberg menjelaskan bahwa komponen terpenting dalam cinta di antaranya adalah gairah dan keintiman. Oleh karena itu, dalam hubungan pacaran dua sejoli seringkali melakukan perbuatan yang menjurus pada perzinaan, bahkan perzinaan itu sendiri. Perilaku yang sering muncul di antaranya khalwat (berdua-duaan), kissing (berciuman), hugging (berpelukan), petting (bercumbu), sex intercourse (hubungan intim), dan masih banyak lagi.
Perzinaan sudah menjadi hal yang identik dan biasa dilakukan dalam pacaran. Kru DETEKSI (Jawa Pos) pada bulan Mei 2003 melakukan survey untuk mengungkap kehidupan seks dan kaum muda pada umumnya. Survey ini dilakukan di Jakarta dan Surabaya dengan sampel pelajar SMU dan mahasiswa. Jumlah responden sebanyak 1522 orang. Di antara hasilnya menunjukkan bahwa hubungan seksual lebih banyak dilakukan responden dengan pacarnya.

Pernah Hubungan Seks Dengan
Persentase
Pacar
73,4%
Teman
15,1%
PSK
8,5%

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Sahabat Anak Dan Remaja Indonesia (Sahara Indonesia) melakukan polling di kota Bandung dan hasilnya adalah 44,8% mahasiswi dan juga remaja Kota Bandung sudah pernah melakukan hubungan intim (seks).
Dari 1.000 orang mahasiswa dan polling yang dilakukan oleh LSM Sahara Indonesia dari tahun 2000 sampai 2002, diketahui bahwa tempat yang paling sering mereka melakukan hubungan intim di rumah tempat kos (51,5 %), kemudian menyusul dirumah-rumah pribadi (sekitar 30 %), ada juga di rumah sang wanita (27,3 persen), kemudian di hotel atau wisma (11,2 persen), di taman luas (2,5 persen), ditempat rekreasi dan bersantai (2,4 persen), seks di ruangan kelas di kampus Bandung (1,3 persen), ada di dalam mobil goyang (0,4 persen) dan lain-lain tidak diketahui (0,7 %). Biasanya para mahasiswi itu memasukkan pacar ke kamarnya pagi hari dan keluar sekitar jam 9 malam agar tidak diketahui masyarakat sekitar atau pemilik rumah kos.
Yuni Astuti, Alumnus Fisipol UGM, mengadakan riset tentang perilaku pacaran pada remaja mulai dari membangun komitmen bersama sampai pada aktivitas pacaran mereka. Riset kualitatif dengan informan 11 orang ini dilakukan pada pertengahan 2005. Dalam riset ini ditemukan, sebagian besar proses pacaran pada remaja mengarah pada perilaku seksual. Dari sekadar berpegangan tangan, di awal proses pacaran, selanjutnya lebih dari itu. Pada riset ini diperoleh bahwa ciuman adalah hal lumrah untuk menyatakan rasa cinta kepada pasangannya. Penelitian yang dilakukan pada 200 orang mahasiswa Universitas Indonesia di Jakarta menunjukkan bahwa 36,2 % dari mahasiswa yang melakukan perilaku-perilaku seksual adalah karena ungkapan sayang, rasa memiliki, keakraban, dan perhatian (Kompas, 26 Mei 1996, dalam Cuan, 1999).

Dampak pacaran
Bagi kita, pacaran memiliki dampak positif maupun negatif:
1.    Prestasi sekolah. Pacaran bisa menurunkan atau meningkatkan prestasi belajar kita. Prestasi meningkat biasanya karena semangat belajar yang naik akibat ada pacar yang senantiasa memberikan dorongan dan perhatian atau karena ingin membuktikan kepada orangtua bahwa meskipun kita pacaran prestasi belajar kita tidak terganggu. Prestasi belajar bisa menurun jika ada permasalahan yang cukup berat hingga mengganggu konsentrasi dan gairah untuk belajar atau lebih senang menghabiskan waktu bersama sang pacar daripada belajar.
2.    Pergaulan sosial. Pergaulan sosial dengan teman sebaya maupun lingkungan sosial sekitar bisa menjadi meluas atau menyempit. Pergaulan menjadi sempit kalau kita lebih banyak menghabiskan waktu hanya berdua, enggak gaul lagi dengan teman lain. Makin lama biasanya kita menjadi sangat bergantung pada pacar kita atau sebaliknya dan tidak memiliki pilihan interaksi sosial lainnya. Hubungan dengan keluarga pun biasanya menjadi renggang karena waktu luang lebih banyak dihabiskan dengan pacar.
3.    Bisa stress. Hubungan dengan pacar tentu saja tidak semulus yang semula diduga karena memang ada perbedaan karakteristik, latar belakang, serta perbedaan keinginan dan kebutuhan. Hal itu menyebabkan banyak sekali terjadi masalah dalam hubungan. Biasanya hal itu akan menguras energi dan emosi serta menimbulkan stres hingga dapat mengganggu kehidupan sehari-hari.
4.    Berkembang perilaku baru. Pacaran dapat bermakna munculnya perilaku yang positif atau sebaliknya muncul perilaku negatif. Pacaran bisa membantu orang mengembangkan perilaku yang positif kalau interaksi yang terbentuk bersifat positif, sedangkan interaksi yang kurang mendukung tentu saja lebih memungkinkan terbentuknya perilaku negatif. Misalnya, pacaran dengan orang yang jago motret. Maka, bukan tidak mungkin kita akan tertular barang sedikit. Atau pacaran dengan orang yang sangat peduli sama orang lain dan penolong, maka kita yang tadinya cuek bisa saja tertular. Begitu pula pada kelakuan yang negatif.

Alasan lain yang membuat remaja gampang cari pacar baru adalah kecenderungan playful saat pacaran. Remaja belum mau berkomitmen serius dan menganggap pacaran cuma untuk main-main belaka. Ini berakibat, ketika salah satu pasangan terlihat serius, pasangan yang tidak siap, langsung pergi. Maka, tinggallah si pasangan yang jengkel karena ditinggalkan. Ada pula alasan klasik yang sering dipakai untuk mengakhiri hubungan: Tidak cocok sama pasangan. Jalur memutuskan hubungan memang yang paling gampang diambil. Tapi, cara ini justru mengesankan kita sebagai sosok egois yang malas cari solusi. Lebih baik, mencoba suatu solusi dulu sebelum ambil langkah putus. Selain itu, ada efek buruk lain. Efek ini jadi alasan yang kerap menjadikan orang tua melarang remaja berpacaran, yaitu terjerumus seks bebas. Kemungkinan terjerumus juga makin besar karena remaja dipengaruhi gejolak hormon seksual. Keberadaan pacar di samping kita dijadikan kesempatan untuk eksplorasi seksual. Tanpa disadari, keintiman fisik antara remaja berlawanan jenis semakin meningkat dan meningkat. Padahal, belum tentu mereka siap menghadapi konsekuensinya. Seperti, hamil di luar nikah atau ketularan penyakit kelamin. Berbagai alasan di atas semakin memperjelas kalau ada orang-orang yang belum mampu belajar dari pengalaman berpacaran. Ada orang-orang yang terlalu terkonsentrasi pada keinginan pribadi. Mereka lebih mementingkan kepuasan diri daripada berusaha memperbaiki kualitas hubungan pacaran. Akibatnya, hubungan sering kandas dan mereka sulit berkembang jadi individu yang lebih bijaksana (Mulamawitri, 2003).

Pacaran yang sehat dan bertanggung jawab
1.      Saling terbuka, mau berbagi pikiran dan perasaan secara terbuka, jujur, mau berterus terang dengan perasan kita terhadap tingkah laku pacar. Siap nerima kritik dan kompromi.
2.      Menerima pacar apa adanya yang dilandasi oleh perasaan sayang. Tidak menuntut sesuatu yang berada di luar kemampuannya.
3.      Saling menyesuaikan. Kalau dalam proses ini terlalu sering ribut, maka perlu mempertimbangkan kemungkinan berpisah.
4.      Tidak melibatkan aktivitas seksual karena dapat mengaburkan proses saling mengenal dan memahami satu sama lain.
5.       Mutual dependensi, masing-masing merasakan adanya saling ketergantungan satu sama lain. Oleh karena itu, diharapkan kita dan pacar mampu melengkapi kekurangan, sedangkan kelebihan yang dimiliki diharapkan mampu menutupi kekurangan pasangan.
6.      Mutual respect, saling menghargai satu sama lain dalam posisi yang setara.

Pacaran Dalam Pandangan Islam
Jika seseorang menyatakan cinta pada lawan jenisnya yang tidak dimaksudkan untuk menikahinya saat itu atau dalam waktu dekat, apakah hukumnya haram? Tentu tidak, karena rasa cinta adalah fitrah yang diberikan allah, sebagaimana dalam firman-Nya berikut: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS. Ar-Rum: 21) Allah telah menjadikan rasa cinta dalam diri manusia baik pada laki-laki maupun perempuan. Dengan adanya rasa cinta, manusia bisa hidup berpasang-pasangan. Adanya pernikahan tentu harus didahului rasa cinta. Seandainya tidak ada cinta, pasti tidak ada orang yang mau membangun rumah tangga. Seperti halnya hewan, mereka memiliki instink seksualitas tetapi tidak memiliki rasa cinta, sehingga setiap kali bisa berganti pasangan. Hewan tidak membangun rumah tangga.
Menyatakan cinta sebagai kejujuran hati tidak bertentangan dengan syariat Islam. Karena tidak ada satu pun ayat atau hadis yang secara eksplisit atau implisit melarangnya. Islam hanya memberikan batasan-batasan antara yang boleh dan yang tidak boleh dalam hubungan laki-laki dan perempuan yang bukan suami istri. Di antara batasan-batasan tersebut ialah:
1.      Tidak melakukan perbuatan yang dapat mengarahkan kepada zina.
Allah SWT berfirman, "Dan janganlah kamu mendekati zina: sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra: 32) Maksud ayat ini, janganlah kamu melakukan perbuatan-perbuatan yang bisa menjerumuskan kamu pada perbuatan zina. Di antara perbuatan tersebut seperti berdua-duaan dengan lawan jenis ditempat yang sepi, bersentuhan termasuk bergandengan tangan, berciuman, dan lain sebagainya.
2. Tidak menyentuh perempuan yang bukan mahramnya.
 Rasulullah SAW bersabda, "Lebih baik memegang besi yang panas daripada memegang atau meraba perempuan yang bukan istrinya (kalau ia tahu akan berat siksaannya). "
3. Tidak berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. 
Dilarang laki dan perempuan yang bukan mahramnya untuk berdua-duan. Nabi SAW bersabda, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak mahramnya, karena ketiganya adalah setan." (HR. Ahmad)
4. Harus menjaga mata atau pandangan.
Sebab mata kuncinya hati. Dan pandangan itu pengutus fitnah yang sering membawa kepada perbuatan zina. Oleh karena itu Allah berfirman, "Katakanlah kepada laki-laki mukmin hendaklah mereka memalingkan pandangan (dari yang haram) dan menjaga kehormatan mereka.....Dan katakanlah kepada kaum wanita hendaklah mereka meredupkan mata mereka dari yang haram dan menjaga kehormatan mereka..." (QS. An-Nur: 30-31). Yang dimaksudkan menundukkan pandangan yaitu menjaga pandangan, tidak melepaskan pandangan begitu saja apalagi memandangi lawan jenis penuh dengan gelora nafsu.
5. Menutup aurat
Diwajibkan kepada kaum wanita untuk menjaga aurat dan dilarang memakai pakaian yang mempertontonkan bentuk tubuhnya, kecuali untuk suaminya. Dalam hadis dikatakan bahwa wanita yang keluar rumah dengan berpakaian yang mempertontonkan lekuk tubuh, memakai minyak wangi yang baunya semerbak, memakai "make up" dan sebagainya setiap langkahnya dikutuk oleh para Malaikat, dan setiap laki-laki yang memandangnya sama dengan berzina dengannya. Di hari kiamat nanti perempuan seperti itu tidak akan mencium baunya surga (apa lagi masuk surga).
Selagi batasan di atas tidak dilanggar, maka pacaran hukumnya boleh. Tetapi persoalannya mungkinkah pacaran tanpa berpandang-pandangan, berpegangan, bercanda ria, berciuman, dan lain sebagainya. Kalau mungkin silakan berpacaran, tetapi kalau tidak mungkin maka jangan sekali-kali berpacaran karena azab yang pedih siap menanti Anda.

Optimalisasi terhadap Pacaran
Dalam rangka membentuk pribadi remaja dalam menjauhi hal-hal negatif dalam pacaran perlu adanya pembinaan nilai-nilai agama yang komprehensif sehingga setiap individu memiliki kontrol diri yang kuat untuk tidak melalukan perbuatan yang melanggar norma-norma yang berlaku, dan perlu adanya pengawasan dan perhatian berbagai pihak yang melingkupi kehidupan remaja itu (kalau istilah kerennya mah harus ada control individual dan control sosial).
Adanya kecenderungan saling mencintai lawan jenis adalah wajar dan normal, tetapi apabila dilampiaskan dengan cara yang salah, inilah yang tidak normal. Normal dan wajar, karena manusia memang mempunyai naluri untuk mempertahankan kelestarian jenis (gharizah nawu’) yang salah satu perwujudannya adalah keinginan untuk melakukan hubungan lawan jenis. Sedangkan yang namanya naluri, jika tidak dipuaskan dapat menimbulkan kegoncangan jiwa dan kegelisahan. Hanya saja, kegelisahan ini akan sirna jika rangsangan yang membangkitkan naluri ini hilang. Untuk itulah, Islam telah memberikan solusi terhadap masalah tersebut, terutama bagi laki-laki dan wanita yang belum menikah, agar selamat dari kemaksiatan.
Firman Allah Swt: “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.”(QS Al-Baqarah 165).
Jadi cinta sejati kita adalah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Kekasih sejati kita adalah jelas Allah dan Rasul-Nya dan ingat ketika kita benar-benar bertakwa kepada Allah maka Allah akan membalasnya sesuai dengan perbuatanmu (Surga) termasuk akan disediakan Bidadari yang sangat cantik dari surga bagi orang-orang yang beriman.Bagi kamu yang belum terjun ke dalam aktivitas ini, hindari segala peluang yang bakal menyeret kamu ke dalam pergaulan bebas ini. Pelajari Islam, sering hadir di majlis taklim, pengajian sekolah dan bertemanlah dengan anak-anak sholeh di sekolah dan lingkungan tempat tinggalmu. Insya Allah itu bakal meredam keinginan berbahaya itu.
Solusi masalah ini sebetulnya tidak hanya ditujukan kepada individu–individu, tapi juga ditujukan kepada masyarakat dan pihak penguasa. Sehingga solusi ini perlu dilakukan dari tiga sisi. Pertama, dari sisi ketaqwaan individu, kedua, kontrol sosial dari lingkungan masyarakat, dan yang ketiga, dari pihak penguasa/penentu kebijaksanaan. Namun, menurut Ust Muhammad Romli paling tidak ada ada dua hal yang dapat dilaksanakan :
1. Tindakan preventif dan pembentengan
a.  Setiap individu berusaha meningkatkan ketaqwaan dan keimanannya serta harus terikat dengan aturan-aturan pergaulan Islami demi kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat (lihat QS Al-Hasyr 7).
b. Menjauhkan diri dari rangsangan-rangsangan yang menimbulkan gejolak seksual, seperti mendengarkan lagu-lagu porno, membaca buku-buku porno/novel bernada cinta dan pergaulan bebas, menonton film hot (Porno), berkhayal yang bukan- bukan, dsb.
c. Bagi yang belum mampu menikah, perbanyaklah shaum/puasa (lihat HR. Bukhari-Muslim)
d. Secara individual menambah beban aktifitas yang bermanfaat. “Nafsu itu seperti keledai yang binal.” kata Imam Ghazali, “apabila diberi beban yang berat niscaya jinak juga.”
e. Memenuhi hidup yang Islami. Masyarakat dan penguasa bersama-sama sekuat tenaga menghilangkan segala sesuatu yang merupakan perangsang gejolak seksual, seperti tayangan-tayangan porno, film-film porno, dan busana-busana porno.
2. Menikah
Satu-satunya cara untuk memuaskan nafsu syahwat yang benar menurut Islam adalah nikah. Bukan berzina (dengan WTS atau pacar misalnya: kumpul kebo, pacaran, free sex, homo/lesbi, ataupun nikah mut’ah/kawin kontrak), karena semuanya itu haram hukumnya menurut Islam.
Banyak sekali hadits dan ayat Al Qur’an yang menganjurkan pernikahan. Satu diantaranya:
“Wahai sekalian pemuda, barang siapa yang mempunyai bekal untuk menikah, nikahlah, karena sesungguhnya menikah itu dapat memejamkan mata dan memelihara kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka berpuasalah, karena berpuasa itu merupakan benteng baginya”(HR Bukhari–Muslim).
“Hai pemuda-pemuda, barang siapa yang mampu diantara kamu serta berkeinginan hendak nikah, hendaklah dia nikah. Karena sesungguhnya pernikahan itu akan memejamkan mata terrhadap oang yang tidak halal dilihatnya, dan akan memeliharanya dari godaan syahwat. Dan barangsiapa yang tidak mampu nikah hendaklah dia berpuasa, karena dengan puasa hawa nafsunya terhadap perempuan akan berkurang.”(Riwayat jama’ah ahli hadits).
Biasanya, sebelum nikah terlebih dahulu ada khitbah. Menurut syekh sayyid sabid. “khitbah itu merupakan permintaan seorang laki-laki untuk menikahi seorang wanita dengan cara yang dikenal di tengah masyarakat.” (lihat Fiqih As Sunnah). Laki-laki yang mengkhitbah seorang wanita menunjukkan adanya kesungguhan untuk menikahi wanita tersebut. Permintaan ini di tujukannya kepada wali si wanita. Jadi, diketahui apabila ia menyerahkan keputusannya kepada walinya. Atau wali si wanita setelah ia meminta persetujuan si wanita tersebut.
Allah mensyari’atkan khitbah sebelum di langsungkan akad nikah agar keduanya saling mengenal dan memulai rumah tangga dengan yakin akan keadaan masing-masing (lihat Fiqih As Sunnah).
Jadi, pada masa khitbah inilah tempat untuk saling memahami karakteristik masing-masing. Satu hal yang penting diingat, walaupun sudah khitbah, aturan-aturan pergaulan harus tetap dilaksanakan. Rentang waktu dari khitbah sampai menikah tidak ditetapkan secara tegas dalam Al qur’an dan sunnah, tetapi sebaiknya secepat mungkin. Dengan dua konsep Islam di atas, insya Allah naluri mempertahankan jenis keturunan yang salah satu perwujudannya adalah keinginan terhadap lawan jenis dapat kita tundukkan atau kita salurkan sesuai dangan saluran yang telah dihalalkan oleh Allah SWT,

Referensi
Chaplin, J.P., 2005. Kamus Lengkap Psikologi terjemah: Kartini Kartono. Jakarta: Rajawali Press.
Santrock, J.W. 2002. Life Span Development terjemah Achmad Chusairi dan Juda Damanik. Jakarta: Erlangga
Santrock, John W. 2003. Adolescence terjemah: Shinto B. Adelar dan Sherly Saragih. Jakarta: Erlangga.
Kartono, Kartini. 2006. Psikologi Wanita I. Bandung: Mandar Maju
Faturrochman, 2006. Pengantar Psikologi Sosial. Yogyakarta: Penerbit Pustaka
Qayyim, Ibnu. 2007. Taman Orang-Orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu. Jakarta: Darul